Apa itu Frenstore?
Ide Program Frenstore sebenarnya gabungan dari 2 raksasa aktivitas online, yaitu situs
jejaring sosial (media pertemanan) dan situs toko online (online store).
8
Contoh situs jejaring sosial adalah facebook, friendster, bergaul.com, dll. Contoh situs
toko online adalah amazon.com, fashiongrosir.com, darashoesbogor.com, dll.
Uniknya, setiap member yang bergabung dijamin mendapatkan bagian komisi. Member
bisa pilih apakah mau menjalin pertemanan, fokus ke toko online, atau aktif mendapatkan
referral.
Tentu penghasilannya beda-beda tergantung yang dikerjakan. Namun yang pasti, setiap
member bisa berpenghasilan ; besar ataupun kecil.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Jika
Selasa, 09 Maret 2010
Judul : Jutaan Rupiah dari Frenstore
Isi :
Apa itu Frenstore?
Ide Program Frenstore sebenarnya gabungan dari 2 raksasa aktivitas online, yaitu situs
jejaring sosial (media pertemanan) dan situs toko online (online store).
8
Contoh situs jejaring sosial adalah facebook, friendster, bergaul.com, dll. Contoh situs
toko online adalah amazon.com, fashiongrosir.com, darashoesbogor.com, dll.
Uniknya, setiap member yang bergabung dijamin mendapatkan bagian komisi. Member
bisa pilih apakah mau menjalin pertemanan, fokus ke toko online, atau aktif mendapatkan
referral.
Tentu penghasilannya beda-beda tergantung yang dikerjakan. Namun yang pasti, setiap
member bisa berpenghasilan ; besar ataupun kecil.
Isi :
Apa itu Frenstore?
Ide Program Frenstore sebenarnya gabungan dari 2 raksasa aktivitas online, yaitu situs
jejaring sosial (media pertemanan) dan situs toko online (online store).
8
Contoh situs jejaring sosial adalah facebook, friendster, bergaul.com, dll. Contoh situs
toko online adalah amazon.com, fashiongrosir.com, darashoesbogor.com, dll.
Uniknya, setiap member yang bergabung dijamin mendapatkan bagian komisi. Member
bisa pilih apakah mau menjalin pertemanan, fokus ke toko online, atau aktif mendapatkan
referral.
Tentu penghasilannya beda-beda tergantung yang dikerjakan. Namun yang pasti, setiap
member bisa berpenghasilan ; besar ataupun kecil.
Minggu, 21 Februari 2010
KTI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Di Indonesia, kasus toksoplasmosis pada manusia berkisar antara 43 - 88% sedangkan pada hewan berkisar antara 6 - 70%. Pada masa lalu, toksoplasmosis dinyatakan hanya dapat mengakibatkan gejala klinis pada individu yang memiliki sistem imun yang lemah . Namun bukti-bukti yang ada dewasa ini memperlihatkan bahwa pada individu yang imunokompeten (sistem imun dapat berespon optimal) juga dapat menunjukkan gejala klinis . Hat ini disebabkan patogenitas Toxoplasma gondii sangat variatif, tergantung klonet atau tipenya. Klonet atau tipe T. gondii terkait dengan struktur populasi klonal berdasar homologi dan kekerabatan genetiknya . Masing-masing tipe memiliki kemampuan merusak, memodulasi sistem imun inang dan kemampuan menghindar (evasi) dari sistem imun inang yang berbedabeda . Hal tersebut berdampak pada perbedaan karakter biologis, patogenitas dan imunopatogenesis serta implikasi klinik dari perbedaan imunopatogenesis yang akan dibahas pada tulisan ini (Subekti, 2008).
Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis klasik yang dapat dijumpai hampir di seluruh dunia. Menurut data WHO, diketahui sekitar 300 juta orang menderita toxoplasmosis. Penyakit ini dapat menyerang manusia dan berbagai jenis mamalia, termasuk hewan kesayangan serta satwa eksotik. Toxoplasmosis juga memiliki dampak ekonomis yang penting karena dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan dan fertilitas, termasuk abortus. Hingga saat ini, toxoplasmosis masih banyak menjadi perhatian karena penyakit ini dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui sista di dalam daging, sayuran, dan buah-buahan, serta air yang tercemar oosista infektif. “Pada wanita hamil yang mengalami infeksi primer pada kehamilan trisemester pertama dapat mengakibatkan keguguran dan juga kelainan pada janin, seperti hidrosefalus, mikrosefalus, anesefalus, serta bisa mengakibatkan retardasi mental, retinokorioditis, dan kebutaan,” Terang Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama dalam pidatonya saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM.
Pengukuhan dilaksanakan di Balai Senat UGM, Ditambahkan oleh pria yang meraih gelar doktor di Institut fur Veterinar Biochemie, Ferei Universitaet Berlin pada tahun 1989 ini, toxoplasmosis dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, kematian pada bayi, bahkan menjadi fatal bagi pengidap HIV. Gejala toxoplasmosis dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga akhirnya berkurang, Tanda-tandanya dapat berupa lesu, sakit kepala, nyeri otot-sendi, disertai demam.
Dalam pidato yang berjudul “Biologi Molekuler Toxoplasma dan Aplikasinya pada Penanggulangan Toxoplasma”, dituturkan Wayan bahwa penyakit ini terkadang kurang diperhatikan karena gejala klinis yang muncul mirip dengan penyakit lain, misalnya flu. Kecurigaan terhadap penyakit ini baru timbul jika gejala klinis diertai dengan pembesaran kelenjar limfe. Karena tingginya prevalensi penyakit ini di masyarakat, perlu dikembangkan berbagai upaya diagnosis dini dan pencegahan, baik pada manusia maupun hewan.
Berdasar data prevalensi toxoplasmosis, sebagian besar penduduk Indonesia pernah terinfeksi parasit toxoplasma gondii. Pemeriksaan antibodi pada donor darah di Jakarta memperlihatkan 60% di antaranya mengandung antibodi terhadap parasit tersebut. Penyebaran toxoplasmosis dapat disebabkan oleh pola hidup yang kurang higienis, seperti tidak mencuci tangan sebelum makan dan makan daging setengah matang yang tanpa disadari mengandung sista.
Pemberian obat, seperti sulfonamide dan pyrimethamine, dapat membunuh toxoplasma pada stadium takizoit. Namun, pengobatan tersebut tidak efektif pada stadium bradizoit. “Selain itu, obat-obat tersebut bersifat toksik sehingga tidak disarankan untuk digunakan dalam jangka waktu lama. Lebih lanjut disampaikannya bahwa pencegahan merupakan faktor utama dalam mengurangi prevalensi toxoplasma pada manusia. Untuk menghindari penularan toxoplasma melalui oosit infektif dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain, selalu menjaga kebersihan hewan kesayangan (kucing diketahui sebagai induk semang definitif toxoplasma), tidak memberikan daging mentah pada kucing piaraan, dan mencuci buah serta sayur sebelum dikonsumsi. Sementara itu, untuk mencegah penularan toxoplasma melalui sista dapat dilakukan dengan mencuci daging sebelum dimasak dan mengurangi mengonsumsi daging setengah matang.
Risiko toxoplasma individu sangat tergantung pada imunitas seseorang, bahkan sangat bervariasi sesuai dengan situasi. Salah satu misalnya adalah ibu hamil yang telah imun sebelum konsepsi, tidak mempunyai risiko toxoplasma terhadap fetus yang dikandung. Akan tetapi, beberapa individu yang immunocompromise berisiko bila terjadi reinfeksi toxoplasma. “Oleh sebab itu, pencegahan congenital toxoplasma dapat dicapai melalui promosi kesehatan dibanding dengan program screening antenatal,” tutur peraih British Council Research Awards ini (Kurniawan, 2008).
Parasit ini biasanya menggunakan hewan kucing sebagai inang utamanya di samping hewan-hewan herbivora, karnivora, omnivara termasuk mamalia dan burung yang mungkin juga terinfeksi.
Secara geografis, umumnya infeksi terjadi pada daerah beriklim hangat dan jarang-jarang pada beriklim dingin atau pegunungan. Hasil penelitian Sayoga melaporkan, dari 288 ibu hamil yang diperiksa, angka kejadian ibu hamil yang di dalam darahnya positif terinfeksi toxoplasma adalah 14,25%. Dari ibu-ibu yang terinveksi itu didapatkan, 4 persalinan prematur dan 1 kasus dengan kelainan saat lahir. Hasil survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan Hartono pada 1995 menemukan angka prevalensi zat anti terhadap toxoplasma pada wanita-wanita hamil sebesar 60,01%. "Sedangkan jumlah penderita penyakit pada hewan-hewan yang hidupnya dekat dengan manusia dagingnya dikonsumsi manusia menunjukkan angka prevalensi yang cukup tinggi yakni 15-75 % (Koesharyono, 2009)..
1.2. Perumusaan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perumusan masalah diatas adalah “Bagaimana gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010
1.3. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahuai gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus penelitian adalah :
1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010 berdasarkan umur.
2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010 berdasarkan pendidikan.
3. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010 berdasarkan pekerjaan.
1.4. Manfaat penelitian
1. Bagi ibu hamil
Sebagai bahan masukan untuk setiap ibu hamil untuk dapat mengerti dan mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010.
2. Bagi peneliti
Untuk mengaplikasika ilmu yang peneliti dapat selama di bangku perkuliahan, dalam meneliti gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010.
3. Bagi klinik yanti
Sebagai bahn masukan dan pengetahuan bagi pihak klinik untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010.
4. Bagi universitas prima indonesia
Sebagai referensi untuk penelitiaan selanjutnya untuk meneliti mengenai gambaran Sebagai bahn masukan dan pengetahuan bagi pihak klinik untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pegetahuan ibu hamil tentang toxoplasma
2.1.1. Defenisi
Pengetahuan adalah merupakan hasil (tahu) dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmojo, 2005).
Pengetahuan adalah kepercayaan yang benar, pengetahuan juga adalah hasil atau apa yang diketahui atau hasil pekerjaan. Pekerjaan yaitu hasil dari kenal, sadar,insaf, mengerti dan pandai (bachtiar, 2004).
2.1.2. Cara memperoleh pengetahuan
Dari berbagai macam cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian (Notoatmojo, 2005).
1. Cara Tradisional
Dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum ditemukanya metode ilmiah yaitu:
a. Cara coba salah (Trial And Error)
Cara coba-coba yang dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan suatu masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan lain.
b. Cara kekuasaan atau Otoritas
Pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik tradisi, otoritas pemerintah,otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan.
c. Berdasarkan pengalaman pribadi
Cara ini dilakukan dengan cara mengulang kembali dengan pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah ini yang dihadapi, maka untuk memecahkan masalah lain yang sama dapat pula dilakukan dengan cara yang sama.
d. Melalui jalan pikiran
Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan penalaranya atau jalan pikiranya
2. Cara Modern
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan ini mode sistematis, logis dan ilmiah.cara ini disebut dengan “metode penelitian ilmiah” atau lebih popular disebut metode penelitian (Research Methodelogi) yang mengembangkamn metode berpikir induktif dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap gejala alam atau kemasyarakatan. Kemudian hasil pengamatan tersebut dikumpulkan dan di klasifikasikan, dan akhirnya diambil kesimpulan umum (Notoatmojo, 2005).
2.1.3. Tingkat pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat (Notoatmojo, 2005).
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelunya
2. Memahami (Komprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan meteri yang tela dipelajari pada situasi atau kondisi rill atau sebenarna.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan suatu untuk menjabarkan materi suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitanya satu sama lainnya.
5. Sintesis (Syenthesis)
Sintesis menunjuk kepada kemampua untuk meletakkan atau kemampuan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
2.1.4. Pengukuran pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan cara kuesioner atau pertanyaan-pertanyaan yang mencakup tentang pengetahuan ibu hamil dengan toxoplasma di nilai seberapa luas kedalaman pengeahuan ibu hamil entang toxoplasma da dapat kita ketahui atau kita ukur melalui persentase yang dihasilkan oleh responden (Notoatmojo, 2005).
2.1.5. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma
Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma ini adalah bagai mana Toksoplasma pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, lahir prematur, lahir mati, lahir cacat atau infeksi toksoplasma bawaan. Bilamana ibu hamil terkena infeksi tokso-plasma maka risiko terjadinya toksoplasmosis bawaan pada bayi yang dikandungnya berkisar antara 30-40%. Infeksi toksoplasma bawaan ini dapat mengakibatkan anak yang dilahirkan mengalami kerusakan mata, perkapuran otak, dan keterbelakangan mental, namun seringkali gejala ini tidak terlihat pada bayi yang baru lahir (neonatus). Beberapa faktor yang mungkin berperan atas munculnya gejala adalah fungsi plasenta sebagai sawar (barrier), status kekebalan (imunitas) ibu hamil, dan umur kehamilan ketika terjadinya infeksi pada ibu. Makin besar umur kehamilan ketika terjadinya infeksi, makin besar pula kemungkinan terjadinya infeksi toksoplasma bawaan pada janin. Pada pihak lain, makin dini terjadinya infeksi pada janin, makin berat kerusakan (kelainan) yang dapat terjadi pada janin dan makin besar kemungkinan abortus.
2.2. Ibu Hamil
Kehamilan adalah rangkaian peristiwa yang baru terjadi bila ovum dibuahi dan pembuahan ovum akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm (Guyton, 1997). Menurut Kushartanti (2004), kehamilan adalah dikandungnya janin hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Astria, 2009).
Kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran).
Dalam masyarakat, definisi medis dan legal kehamilan manusia dibagi menjadi tiga periode trimester untuk memudahkan tahap dari perkembangan janin. Trimester pertama (minggu pertama sampai minggu ke-13) membawa resiko tertinggi keguguran (kematian alami embrio atau janin), sedangkan pada masa trimester kedua (minggu ke-14 sampai ke-26) perkembangan janin dapat dimonitor dan didiagnosa. Trimester ketiga (minggu ke-27 sampai kehamilan cukup bulan 38-40 minggu) menandakan awal viabilitas, yang berarti janin dapat tetap hidup bila terjadi kelahiran awal alami atau kelahiran dipaksakan (Astria, 2009).
2.2.1. Infeksi-infeksi pada Ibu Hamil
Seorang ibu hamil harus merawat kehamilannya sejak dini dengan memeriksakan diri secara teratur ke dokter dan atau tenaga medis yang berkompeten, menjaga kebersihan dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Karena gizi ibu hamil, kebersihan dan pemeriksaan teratur (Ante natal care) mempunyai peranan penting tidak saja agar proses kelahiran mudah, tetapi yang lebih penting lagi adalah bayi yang dilahirkan dalam kondisi sehat. Kondisi kehamilan dapat terpengaruh beberapa keadaaan, antara lain adalah penyakit infeksi. Beberapa penyakit infeksi yang didapat, terutama pada kehamilan dini bisa menyebabkan terjadinya keguguran dan dampak yang serius pada janin, sehingga dapat menimbulkan kelainan-kelainan dan cacat pada bayi yang dilahirkan.
Infeksi TORCH (Toxoplasma, Other, (Strepto Gr-B, Listerosis, Measles, Varicella dan lain-lain) Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex virus), pada kehamilan menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi, berkisar antara 5,5-8,4 %. Kelompok inveksi ini yang terdiri beberapa jenis virus dan toxoplasma gondii memberikan sindroma manifestasi klinik pada anak hampir mirip satu dengan yang lainnya, sehingga sulit kiranya dipisahkan antara penyebab penyebab penyakit beberapa jenis virus tersebut dengan infeksi Toxoplasma gondii itu sendiri. Maka kelompok infeksi ini dijadikan satu dalam akronim sebagai “infeksi TORCH”. Selain dapat menyebabkan komplikasi yang bermacam-macam pada janin, infeksi TORCH merupakan salah satu faktor penyebab infertilitas pada wanita. Telaah ari kajian klinis menyatakan bahwa prevalensi infeksi toxoplasma pada infertilitas mempunyai rentang berkisar antara 7-18%, dan secara umum infeksi ini bertambah dengan makin bertambahnya umur penderita (RetnoArum, 2009).
2.2.2. Bahaya toksoplasma bagi ibu dan janin
Pada orang sehat, parasit tokso tidak berdampak apa-apa. Lain halnya pada ibu hamil. Jika tidak keguguran, maka janin yang lahir akan terancam cacat. Sering mendengar, kan, ibu hamil yang keguguran atau bayinya cacat akibat terinfeksi toksoplasma. Sebenarnya, ungkap dr. Indra Anwar, Sp.OG, infeksi tokso bisa menyerang siapa saja. Baik laki-laki maupun perempuan bisa terkena parasit yang populer disebut Toxoplasma gondii ini. Data statistik pun menunjukkan, hampir sepertiga penduduk dunia, baik laki-laki maupun perempuan terinfeksi toksoplasma. Awalnya, penyakit ini ditemukan pada seekor rodensial (hewan pengerat) di Tunisia tahun 1908. Sedangkan pada manusia baru ditemukan di Cekoslovakia pada tahun 1923. Diungkapkan oleh Indra, bagi orang normal dan sehat, infeksi tokso tidak menimbulkan gangguan berarti. Kondisinya yang selalu "tidur" memungkinkan hal itu. Dokter dari RS Bunda Jakarta ini lantas mengungkapkan, meski begitu parasit tokso memiliki sifat oportunis. Jika daya tahan tubuh orang yang didiaminya kuat, adanya virus ini memang tidak mengakibatkan gangguan berarti. Barulah ketika daya tahan tubuh lemah, virus tokso akan menimbulkan bahaya.
Itulah mengapa, infeksi tokso bisa muncul kapan saja. Juga, tak ada jaminan bahwa seseorang yang sudah divonis bebas tokso, tiga bulan lagi akan tetap bebas dari virus tersebut (Milis, 2007).
2.2.3. Karakteristik ibu hamil terhadap penyakit toxoplasma.
Adapun karakteristik ibu hamil terhadap penyakit toxoplasma, meliputi:
1. Umur
Umur adalah indeks yang menempatkan individu-individu dalam urutan perkembangan, lamanya orang hidup dalam tahun dihitung sejak dilahirkan berulang tahun terakhir (Hurlock, 1998).
2. Pendidikan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain secara kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Yang diharapkan dari pendidikan itu sendiri adalah setiap individu mampu untuk meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo, 2003).
3. Pekerjaan
Pekerjaan dalah kegiatan formal yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kebahagiaan tergantung pada kesesuaian besar luasnya cakupan bakat dan minat dengan tugas yang diemban artinya makin cocok bakat dan minatnya dengan jenis pekerjaan yang diemban, makin tinggi pula tingkat kepuasan yang diperoleh (Hurlock, 1998).
2.3. Toxoplasma
2.3.3. Defenisi
Toxoplasma adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang telah diketahui dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan kongenital) pada bayi dan keguguran (abortus) pada ibu hamil. Infeksi toksoplasma dapat bersifat tunggal atau dalam kombinasi dengan infeksi lain dari golongan TORSH-KM (Ummi, 2008).
Toxoplasma gondii adalah adalah parasit protozoa intraselluler. Bentuk parasit toxoplasma gondii seperti batang melengkung dengan ukuran lebih kecil dari sel darah merah (3-6 um), dapat menembus sel secara aktif dan masuk ke berbagai jaringan seperti obat, otak, mata, dan usus.
Parasit ini memiliki 3 bentuk dalam siklus hidup -- takizoit, kista (bradizoit) dan ookista. Ookista berukuran 10-12 um, mempunyai hospes definitive yaitu kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus seksual yang kemudian menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feses kucing.
Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam fesesnya mengandung jutaan ookista. Ookista dapat bertahan di lingkungan untuk beberapa bulan dan tahan terhadap desinfektan, pembekuan dan tempat yang kering, namun dapat mati dengan pemanasan 70øC selama 10 menit (Dr. I Made Arya, 2009).
Penelitian toxoplasma di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1971 dan 1972 oleh Durfee yang dilaporkan pada tahun 1976. Dalam penelitian tersebut mereka mengumpulkan sera dari 1.050 orang, 69 kucing 18 kambing,23 sapi, 2 kera, dan satu anjing dari tujuh desa kalimantan selatan pada tahun 1971 dan mengujinya dengan uji hemaglutinasi tidak langsung (IHA = Inderect technique) da titer dinyatakan positif bila masih positif bila masih positif pencernaan ≥ 1: 16 sedangkan tahun 1972 peneliti yang sama mengumpulkan suatu data (Rochiman, 2006).
Peneliti lain yang mencoba mengungkap peranan kucing dalam penularan toxoplasma adalah Umyati dan Amino yana memeriksa 11 kucing laboratorium kedokteran universitas gajah mada di yogyakarta. Hasil pemeriksaan tersebut membuktikan 3 dari 14 kucing yang di periksa positif ookista T.gondii, walaupun ternyata dari ke tiga kucing hanya dua kucing yang positif secara serologis. Hasil menunjukkan kucing disuatu laboratorium bisa terkena toxoplasma dan mampu menularkannya. Kucing peliharaan masyarakat maupun hewan lainnya termasuk ternak yang dagingnya di komsumsi manusia. Penelitian ini di tunjang oleh hasil penelitian yang mengatakan bahwa lebih dalam menularkan toxoplasma pada manusia (Rochiman, 2006).
2.3.4. Epidemiologi Toxoplasma Dimanca Negara
Sebagai kelengkapan epidemiologi toxoplasma di Indonesia perlu juga dikemukakan epidemiologi toxoplasma di manca Negara denga tujuan untuk menjadi bahan perbandingan dengan di negeri kita sehingga dapat melakukan tingkat lanjut yang lebih cepat dan efisien daripada sebelunya. Didalam bahasan toxoplasma pada hewan sebab manusia akan di uraikan bersama dengan hewan sebab toxoplasma pada manusia sangat erat hubungannya.
1. Asia
Papua new guinea. Toxoplasma yang disebarkan oleh induk semang utama kucing telah diperhitungkan juga oleh Wallace. Hasil pengujian mereka dengan uji pewarnaan Sabin dan Feldman dengan batas seropositif toxoplasma ≥ 1:16 di papua barat dan papua New Guinea meliputi sembilan daerah pada tahun 1960, 1968, dan 1970.
2. Malaysia
Negara tetangga kita yang lain adalah Malaysia juga tidak lepas dari toxoplasma seperti halnya dilaporkan oleh Leong kejadian toxoplasma perolehan pada dua orang pasien dengan keluhan adanya pembengkakan pada sisi leher bagian kiri dari seorang mahasiswa umur 23 tahun dan pembengkakan di daerah occiput tanpa Adanya rasa sakit (Rochiman, 2006).
3. Singapura
Sementara itu Lim yang dikutip oleh leong melaporkan tiga kasus toxoplasma kongnital dengan korioditas di singapura. Orang tua dari pasien tersebut adalah indonesia dan inggris (Rochiman, 2006).
4. Myanmar
Tin mengadakan segi pada anak anak sekolah pada orang sekolah 7-13 tahun di dua lokasi yang berjauhan, yaitu Gyogon 40 mil cébela utara Rangoon dan Hiwaga 20 mil cebela utara yang mempunyai hubungan yang mudah dengan rangoon (Rochiman, 2006).
5. Taiwan
Durfee mengadakan sigi pada anak-anak serologis manusia dan hewan di Propinsi Miaoli dibagian utara Taiwan dan Propinsi Pintung dari bagian selatan Taiwan dan kucing di kota Taipe. Pada peternakan babi yang dekat dengan daerah sigi kucing ternyata 35,4% seropositif dari 325 babi yang di periksa tapi tidak ada seropositif pada 20 tikus dan 11 kucing liar diperiksa. Hasil uji 114 karyawan yang di uji ternyata hanya 2,6% seropositif (Rochiman, 2006).
6. Jepang
Daging babi adalah daging utama yang dikomsumsi penduduk Amami Oshima di jepang selatan.hasil segi dengan uji memaglutinasi tidak langsung menunjukkan 35% seropositif toxoplasma dari 393 babi yang di periksa (Rochiman, 2006).
2.3.3. Penularan toxoplasma
Penularan satu penyakit tergantung pada tiga hal,yaitu adanya lingkungan yang memungkinkan perkembangbiakan agen penyakit, Adanya induk semang maupun induk semana antara (intermediet) yang peka dan tentunya agen penyakit itu sendiri. (Rochiman, 2006).
Toxoplasma adalah penyakit ang mempunya induk semana antara hampir pada semua hewan berdarah panas. Semua jenis hewan perantara mempunyai kemungkinan besar untuk selalu ada di seluruh wilayah negara kesatuan republik indonesia yang beriklim tropis dan merupakan surga bagi perkembangan parasit pada umunya dan ookista T.gondii pada khususnya. Toxoplasma dapat ditularkan dari statu induk semana antara semana yang lainya melalui beberapa cara berikut:
a. Tertelannya ookista infektif yang berasal dari kucing
b. Tertelanya kista jaringa atau kelompok takizoid yang terdapat didala daging mentah atau pun yang dimasak kurang sempurna.
c. Melalui placenta
d. Kecelakan dilaboratorium karena terkontaminasi melalui luka.
e. Penyuntikan merozid secara tidak sengaja.
f. Tranfusi leukosit penderita toxoplasma
Menurut Levine empat cara penularan pertama adalah yang paling sering terjadi sagat lah mempengaruhi (Rochiman, 2006).
2.3.4. Gejala dan wujud klinis toxoplasma
Gejala yang timbul pada infeksi toksoplasma tidak khas, sehingga penderita sering tidak menyadari bahwa dirinya telah terkena infeksi. Tetapi sekali terkena infeksi toksoplasma maka parasit ini akan menetap (persisten) dalam bentuk kista pada organ tubuh penderita selama siklus hidupnya. Gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening (limfe) dikenal sebagai limfadenopati, yang dapat disertai demam. Kelenjar limfe di leher adalah yang paling sering terserang. Gejala toksoplasmosis akut yang lain adalah demam, kaku leher, nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), ruam kulit, gidu (urticaria), hepatosplenomegali atau hepatitis. Wujud klinis toksoplasmosis yang paling sering pada anak adalah infeksi retina (korioretinitis), biasanya akan timbul pada usia remaja atau dewasa. Pada anak, juling merupakan gejala awal dari korioretinitis. Bila makula terkena, maka penglihatan sentralnya akan terganggu (Zrofikoh, 2008).
Pada penderita dengan imunodefisiensi seperti penderita cacat imun, penderita kanker, penerima cangkok jaringan yang mendapat pengobatan imunosupresan, dapat timbul gejala ringan sampai berat susunan saraf pusat seperti ensefalopati, meningoense-falitis, atau lesi massa otak dan perubahan status mental, nyeri kepala, kelainan fokal serebral dan kejang-kejang, bahkan pada penderita AIDS seringkali mengakibatkan kematian. (Zrofikoh, 2008).
Toxoplasma dapat masuk ke dalam tubuh manusia dalam berbagai cara. Pertama, secara tidak sengaja menelan tinja kucing yang di dalamnya terdapat telur toxoplasma. Cara ini banyak tidak disadari, misalnya menyentuh mulut dengan tangan yang telah berkontaminasi seperti sehabis berkebun, membersihkan tempat makan kucing atau barang-barang lain yang sudah terkontaminasi. Kedua, parasit ini juga dapat masuk jika mengkonsumsi daging hewan yang telah terkontaminasi dan tidak dimasak secara matang. Bentuk kista dari parasit ini dapat masuk bersama daging hewan tadi. Ketiga, masuk lewat air yang telah terkontaminasi. Dan yang jarang, jika Anda menerima transparansi organ atau transfusi darah dari donor yang telah terkontaminasi. Jika dalam keadaan sehat, umumnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala apa-apa atau menyerupai sakit influenza biasanya disertai pembesaran kelenjar getah bening regional yang nyeri. Gejala yang berat mungkin terjadi seperti kerusakan otak dan mata yang terutama terjadi pada penderita kekurangan daya tahan tubuh seperti HIV/AIDS atau penyakit keganasan (Dr. I Made Arya, 2009).
2.3.5. Pencehahan toxoplasma
a. Hindari mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang, serta buah dan sayuran yang belum dicuci.
b. Hindari mengosok mata atau menyentuh muka ketika sedang menyiapkan makanan.
c. Cuci alas memotong, piring, serta alat memasak lainnya dengan air panas dan berbusa setelah kontak dengan daging mentah.
d. Masak air sampai mendidih serta hindari meminum susu yang belum di pasteurisasi.
e. Sedapat mungkin kendalikan serangga-serangga yang dapat menyebarkan kotoran kucing seperti, lalat dan kecoa
f. Jika Anda memiliki hewan peliharaan kucing, jangan biarkan Anda berkeliaran di luar rumah yang memperbesar kemungkinan kontak dengan toxoplasma.
g. Mintalah anggota keluarga lain untuk membantu Anda membersihkan kucing Anda termasuk memandikannya, mencuci kandang, tempat makannya.
h. Beri makan kucing Anda dengan makananan yang sudah dimasak dengan baik.
i. Lakukan pemeriksaan berkala terhadap kesehatan kucing Anda.
j. Gunakan sarung tangan plastik ketika Anda harus membersihkan kotoran kucing, sebaiknya dihindari.
k. Cuci tangan sebelum makan dan setelah berkontak dengan daging mentah, tanah atau kucing.
l. Gunakan sarung tangan plastik jika Anda berkebun terutama jika terdapat luka pada tangan Anda (Pandu, 2010).
2.3.6. Pengobatan toxoplasma
Untuk mengendalikan infeksi yang persisten ini, umumnya diperlukan reaksi imun tubuh yang memadai (adekuat). Penderita toksoplasma dengan sistem imun yang normal tidak memerlukan pengobatan, kecuali ada gejala-gejala yang berat atau berkelanjutan. Toksoplasmosis pada penderita imunodefisiensi harus diobati karena dapat mengakibatkan kematian. Toksoplasmosis pada ibu hamil perlu diobati untuk menghindari toksoplasmosis bawaan pada bayi. Obat-obat yang dapat digunakan untuk ibu hamil adalah spiramisin 3 gram/hari yang terbagi dalam 3-4 dosis tanpa memandang umur kehamilan, atau bilamana mengharuskan maka dapat diberikan dalam bentuk kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin setelah umur kehamilan di atas 16 minggu (Zrofikoh, 2008).
Lebih lanjut disampaikannya bahwa pencegahan merupakan faktor utama dalam mengurangi prevalensi toxoplasmosis pada manusia. Untuk menghindari penularan toxoplasma melalui oosit infektif dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain, selalu menjaga kebersihan hewan kesayangan (kucing diketahui sebagai induk semang definitif toxoplasma), tidak memberikan daging mentah pada kucing piaraan, dan mencuci buah serta sayur sebelum dikonsumsi. Sementara itu, untuk mencegah penularan toxoplasma melalui sista dapat dilakukan dengan mencuci daging sebelum dimasak dan mengurangi mengonsumsi daging setengah matang (Rilis, 2008).
2.3.7. Pemeriksaan toxoplasma
Diagnosis penyakit toksoplasma umumnya ditegakkan karena adanya kecenderungan yang mengarah pada penyakit tersebut, antara lain adanya riwayat:
a. Infertilitas, abortus, lahir mati, kelainan bawaan
b. Memelihara binatang piaraan berbulu, misalnya kucing
Pemeriksaan yang digunakan saat ini untuk mendiagnosis toxoplasma adalah pemeriksaan serologis, dengan memeriksa zat anti (antibodi) IgG dan IgM Toxsoplasma gondii. Antibodi IgM dibentuk pada masa infeksi akut (5 hari setelah infeksi), titernya meningkat dengan cepat (80 sampai 1000 atau lebih) dan akan mereda dalam waktu relatif singkat (beberapa minggu atau bulan). Antibodi IgG dibentuk lebih kemudian (1-2 minggu setelah infeksi), yang akan meningkat titernya dalam 6-8 minggu, kemudian menurun dan dapat bertahan dalam waktu cukup lama, berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun. Oleh karena itu, temuan antibodi IgG dianggap sebagai infeksi yang su-dah lama, sedangkan adanya antibodi IgM berarti infeksi yang baru atau pengakifan kembali infeksi lama (reaktivasi), dan berisiko bayi terkena toksoplasmosis bawaan. Berapa tingginya kadar antibodi tersebut untuk menyatakan seseorang sudah terinfeksi toxoplasma sangatlah beragam, bergantung pada cara peneraan yang dipakai dan kendali mutu dan batasan baku masing-masing laboratorium. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Teguh Wahyu S dkk. (1998), yang menyatakan seorang ibu yang tergolong positif bilamana titer IgGnya 2.949 IU/mL atau IgM 0.5 IU/mL, sedangkan tergolong negatif bilamana titer IgG < 2.0 IU/mL atau IgM < 0.5 IU/ml (Zrofikoh, 2008).
Tidak semua ibu hamil yang terinfeksi toksoplasma akan menularkan toxoplasma bawaan pada bayinya. Bilamana dalam pemeriksaan ibu sebelum hamil menunjukkan IgG positif terhadap toksoplasma, berarti ibu tersebut terinfeksi sudah lama, tetapi bukan berarti bahwa 100% bayinya akan bebas dari toxoplasma bawaan. Apabila pemeriksaan serologis baru dilakukan pada saat hamil, maka :
a. bila IgG (+) dan IgM (-); dianggap sebagai infeksi lama dan risiko janinnya terinfeksi cukup rendah sehingga ada sebagian pakar yang berpendapat tidak perlu diobati, kecuali jika pasien itu mengidap gangguan kekebalan.
b. bila IgG (+) dan IgM (+); uji perlu diulang lagi 3 minggu kemudian. Bilamana titer IgG tidak meningkat maka dianggap infeksi terjadi sebelum kehamilan dan risiko untuk janinnya cukup rendah, sedangkan jika titer IgG meningkat 4 kali lipat dan IgM tetap positif maka ini berarti bahwa telah terjadi infeksi baru dan janin sangat berisiko mengalami toxoplasma bawaan atau terjadi keguguran.
c. bila IgG (-) dan IgM (-); bukan berarti terbebas dari toksoplasmosis bawaan, justru pada ibu ini pemeriksaan harus diulang setiap 2-3 bulan untuk menasah serokonversi (perubahan negatif menjadi positif).
d. Bilamana pada ibu hamil ditemukan IgM (+) maka pengobatan sudah pasti harus diberikan dan pemeriksaan ultrasonografi dilakukan berulang kali untuk menen-tukan adanya kelainan janin.
e. Ultrasonografi serial setiap 3 minggu dilakukan untuk menentukan adanya kelainan, misalnya: asites, pembesaran rongga otak (ventrikulomegali) (V/H), pemesaran hati (hepatomegali), perkapuran (kalsifikasi) otak. Bila pada janin terdapat kelainan maka perlu dipertimbangkan untuk peng-akhiran (terminasi) kehamilan.
f. Bila mungkin, dilakukan pengambilan darah janin pada kehamilan 20-32 minggu untuk pembiakan parasit (inokulasi) pada mencit. Bila inokulasi memberikan hasil positif maka perlu dipertimbangkan untuk pengakhiran kehamilan.
g. Setelah bayi lahir perlu dilakukan pemeriksaan lengkap terhadap bayi, antara lain: pengambilan darah talipusat ketika bayi baru saja lahir untuk pemeriksaan serologis antibodi janin atau isolasi T. gondiii, pemeriksaan titik-cahaya mata (funduskopi), dan USG atau foto rontgen tengkorak.
Diagnosis toxoplasma bawaan pada bayi lebih sukar ditetapkan karena gejala klinis dari infeksi toksoplasma bawaan sangat beraneka ragam dan seringkali subklinis (tidak terlihat) pada neonatus. Oleh karena itu perlu dilakukan juga pemeriksaan serologis pada neonatus, terutama bilamana diketahui ibunya terinfeksi selama kehamilan. Antibodi IgG dapat menembus plasenta, sedangkan antibodi IgM tidak dapat menembus plasenta. Dengan demikian, apabila pada darah bayi ditemukan antibodi IgG mungkin hanya merupakan pindahan (transfer) IgG ibu, dan lambat-laun akan habis. Pada usia 2-3 bulan, bayi sudah dapat membentuk antibodi IgG sendiri, bilamana bayi terinfeksi toksoplasma bawaan maka konsentrasi IgGnya akan mulai meningkat lagi setelah IgG yang diperoleh dari ibunya habis. Tetapi jika ditemukan antibodi IgM, maka ini menunjukkan infeksi nyata pada bayi (toxoplasma bawaan) (Zrofikoh, 2008).
2.4. Kerangka konsep
Kerangka konsep penelitian tentang gambaran pengetahuan ibu hamil tentang Toxoplasma di klinik Yanti medan periode 2009-2010.
Variabel Bebas Variabel Terikat
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriftif yang menggambarkan pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti periode 2009-2010.
3.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.2.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di klinik Yanti Medan periode 2009 -2010 didasarkan atas :
1. Lokasi tersebut belum pernah di jadikan tempat penelitian kesehatan tentang Toxoplasma sebelumnya.
2. Ibu hamil yang berkunjung ke klinik belum pernah mendapatkan informasi tentang toxoplasma kususnya tentang bagaimana penularannya.
3. Lokasi tersebut tidak jauh dari tempat tinggal peneliti.
4. Jumlah sampel memadai untuk di jadikan penelitian.
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan april 2010.
3.3. Populasi
3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan ibu hamil di klinik yanti periode dengan jumlah 50 orang alasan penelitian mengambil sampel dari ibu hamil ini adalah untuk mengetahui bagaimana hasil gambaran pengetahuan ibu hamil tersebut terhadap toxoplasma. Selain itu ibu hamil juga memiliki waktu untuk ikut serta dalam berjalanya penelitian ini, sehingga memudahkan peneliti memudahkan untuk mendapatkan data yang akurat.
3.3.2. Sampel
Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sample, dimana semua populasi menjadi sampel penelitian yaitu sebanyak 50 orang.
3.4. Metode Pengumpulan data
Penelitian ini menggunakan data primer dengan menggunakan wawancara secara langsung kepada responden dengan menggunakan kuesioner yang dibuat sendiri oleh penulis berdasarkan pustaka kepada ibu hamil di klinik yanta Medan periode 2009-2010, kuesioner ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma.
3.5. Defenisi Operasional
No Variabel Defenisi Parameter Alat ukur Skala Hasil ukur
1 Bebas : pengetahuan ibu hamil Pengetahuan adalah merupakan hasil (tahu) dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. a. Baik, jika mampu menjawab pertanyaan dengan benar > 11 (> 73,3%)
b. Cukup, jika mampu menjawab pertanyaan dengan benar 8-11 (53,3-73,3%)
c. Kurang, jika mampu menjawab pertanyaan dengan benar < 8 (< 53,3%) Kuesioner Ordinal 1. Baik (skor 1)
2. Cukup (skor 2)
3. Kurang (skor 3)
2 Karakteristik ibu hail :
Umur
Lamanya hidup dalam tahun, yang dihitunh sejak dilahirkan sampai pengisian kuisioner. a. 20-25 tahun
b. 26-30 tahun
c. 31-35 tahun
d. ≥ 36 tahun Kuesioner Ordinal 1. 20-25 tahun (skor 1)
2. 26-30 tahun (skor 2)
3. 31-35 tahun (skor 3)
4. ≥ 36 tahun (skor 4)
3 Pendidikan
Proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok dalam usa mendewasakan manusia dalam upaya pendidikan a. SD
b. SMP
c. SMAd. PT Kuesioner Ordinal 1. SD (skor 1)
2. SMP (skor 2)
3. SMA (skor 3)
4. PT (skor 4)
4 Pekerjaan Kegiatan yang dilakukan untuk mencari nafkah a. IRT
b. Wiraswasta
c. Pegawai swasta
d. PNS Kuesioner Nominal 1. IRT (skor 1)
2. Wiraswasta (skor 2)
3. Peg. Swasta (skor 3)
4. PNS (skor 3)
8 Terikat : toxoplasma Toxoplasma adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang telah diketahui dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan kongenital) pada bayi dan keguguran (abortus) pada ibu hamil. a. Ringan
e. Berat Kuesioner Ordinal 1. Ringan, jika memiliki gejala demam, kaku leher, nyeri otot, nyeri sendi dan ruam (skor 1)
2. Berat, jika terjadi keguguran pada kehamilan dan kecacatan pada anak (skor 2)
3.6. Aspek pengukuran
1. Pengetahuan
Pengetahuan ibu hamil tentang penyakit toxoplasma di ukur melalui 15 pertanyaan dengan memilih jawaban pada kuesioner. Untuk masing-masing pertanyaan apabila responden menjawab dengan benar di beri nilai 1 (satu) dan bila salah di beri nilai 0 (nol).
Berdasarkan jumlah skor yang di peroles responden maka pengetahuan responden di kategorikan atas 3 kategori :
1. Tingkat pengetahuan baik bila skor yang diperoleh > 11 (> 73,3%).
2. Tingkat pengetahuan sedang bila skor yang diperoleh antara 8-11 (53,3%-73,3%).
3. Tingkat pengetahuan kurang apabila skor yang diperoleh < 8 (< 53,3%).
3.7 Tekhnik Pengolahan Data
1. Editing (pemeriksaan data), data yang masuk diperiksa kembali apakah ada kekeliuan data, kemungkinan tidak lengkap atau data yang tidak sesuai.
2. Coding (pengkodean data), memberikan tanda atau kode pada data yang telah lengkap sesuai dengan variable yang akhirnya dapat diolah.
3. Entrying memasukkan data ke komputer.
4. Tabulating (pemasukan data), data selanjutnya dikelompokkan secara teliti, dihirung dan dijumlahkan kemudian dimasukkan kedalam tabel-tabel distribusi frekuensi.
3.8 Analisa Data
1. Analisa univariat
Analisis ini dilakukan secara deskriptif dengan distribusi frekuensi terhadap variabel pengetahuan ibu dengan penyakit toxoplasma.
2. Analisa bivariat
Untuk melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dengan menggunakan uji chi-square (X2) pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05).
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Di Indonesia, kasus toksoplasmosis pada manusia berkisar antara 43 - 88% sedangkan pada hewan berkisar antara 6 - 70%. Pada masa lalu, toksoplasmosis dinyatakan hanya dapat mengakibatkan gejala klinis pada individu yang memiliki sistem imun yang lemah . Namun bukti-bukti yang ada dewasa ini memperlihatkan bahwa pada individu yang imunokompeten (sistem imun dapat berespon optimal) juga dapat menunjukkan gejala klinis . Hat ini disebabkan patogenitas Toxoplasma gondii sangat variatif, tergantung klonet atau tipenya. Klonet atau tipe T. gondii terkait dengan struktur populasi klonal berdasar homologi dan kekerabatan genetiknya . Masing-masing tipe memiliki kemampuan merusak, memodulasi sistem imun inang dan kemampuan menghindar (evasi) dari sistem imun inang yang berbedabeda . Hal tersebut berdampak pada perbedaan karakter biologis, patogenitas dan imunopatogenesis serta implikasi klinik dari perbedaan imunopatogenesis yang akan dibahas pada tulisan ini (Subekti, 2008).
Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis klasik yang dapat dijumpai hampir di seluruh dunia. Menurut data WHO, diketahui sekitar 300 juta orang menderita toxoplasmosis. Penyakit ini dapat menyerang manusia dan berbagai jenis mamalia, termasuk hewan kesayangan serta satwa eksotik. Toxoplasmosis juga memiliki dampak ekonomis yang penting karena dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan dan fertilitas, termasuk abortus. Hingga saat ini, toxoplasmosis masih banyak menjadi perhatian karena penyakit ini dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui sista di dalam daging, sayuran, dan buah-buahan, serta air yang tercemar oosista infektif. “Pada wanita hamil yang mengalami infeksi primer pada kehamilan trisemester pertama dapat mengakibatkan keguguran dan juga kelainan pada janin, seperti hidrosefalus, mikrosefalus, anesefalus, serta bisa mengakibatkan retardasi mental, retinokorioditis, dan kebutaan,” Terang Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama dalam pidatonya saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM.
Pengukuhan dilaksanakan di Balai Senat UGM, Ditambahkan oleh pria yang meraih gelar doktor di Institut fur Veterinar Biochemie, Ferei Universitaet Berlin pada tahun 1989 ini, toxoplasmosis dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, kematian pada bayi, bahkan menjadi fatal bagi pengidap HIV. Gejala toxoplasmosis dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga akhirnya berkurang, Tanda-tandanya dapat berupa lesu, sakit kepala, nyeri otot-sendi, disertai demam.
Dalam pidato yang berjudul “Biologi Molekuler Toxoplasma dan Aplikasinya pada Penanggulangan Toxoplasma”, dituturkan Wayan bahwa penyakit ini terkadang kurang diperhatikan karena gejala klinis yang muncul mirip dengan penyakit lain, misalnya flu. Kecurigaan terhadap penyakit ini baru timbul jika gejala klinis diertai dengan pembesaran kelenjar limfe. Karena tingginya prevalensi penyakit ini di masyarakat, perlu dikembangkan berbagai upaya diagnosis dini dan pencegahan, baik pada manusia maupun hewan.
Berdasar data prevalensi toxoplasmosis, sebagian besar penduduk Indonesia pernah terinfeksi parasit toxoplasma gondii. Pemeriksaan antibodi pada donor darah di Jakarta memperlihatkan 60% di antaranya mengandung antibodi terhadap parasit tersebut. Penyebaran toxoplasmosis dapat disebabkan oleh pola hidup yang kurang higienis, seperti tidak mencuci tangan sebelum makan dan makan daging setengah matang yang tanpa disadari mengandung sista.
Pemberian obat, seperti sulfonamide dan pyrimethamine, dapat membunuh toxoplasma pada stadium takizoit. Namun, pengobatan tersebut tidak efektif pada stadium bradizoit. “Selain itu, obat-obat tersebut bersifat toksik sehingga tidak disarankan untuk digunakan dalam jangka waktu lama. Lebih lanjut disampaikannya bahwa pencegahan merupakan faktor utama dalam mengurangi prevalensi toxoplasma pada manusia. Untuk menghindari penularan toxoplasma melalui oosit infektif dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain, selalu menjaga kebersihan hewan kesayangan (kucing diketahui sebagai induk semang definitif toxoplasma), tidak memberikan daging mentah pada kucing piaraan, dan mencuci buah serta sayur sebelum dikonsumsi. Sementara itu, untuk mencegah penularan toxoplasma melalui sista dapat dilakukan dengan mencuci daging sebelum dimasak dan mengurangi mengonsumsi daging setengah matang.
Risiko toxoplasma individu sangat tergantung pada imunitas seseorang, bahkan sangat bervariasi sesuai dengan situasi. Salah satu misalnya adalah ibu hamil yang telah imun sebelum konsepsi, tidak mempunyai risiko toxoplasma terhadap fetus yang dikandung. Akan tetapi, beberapa individu yang immunocompromise berisiko bila terjadi reinfeksi toxoplasma. “Oleh sebab itu, pencegahan congenital toxoplasma dapat dicapai melalui promosi kesehatan dibanding dengan program screening antenatal,” tutur peraih British Council Research Awards ini (Kurniawan, 2008).
Parasit ini biasanya menggunakan hewan kucing sebagai inang utamanya di samping hewan-hewan herbivora, karnivora, omnivara termasuk mamalia dan burung yang mungkin juga terinfeksi.
Secara geografis, umumnya infeksi terjadi pada daerah beriklim hangat dan jarang-jarang pada beriklim dingin atau pegunungan. Hasil penelitian Sayoga melaporkan, dari 288 ibu hamil yang diperiksa, angka kejadian ibu hamil yang di dalam darahnya positif terinfeksi toxoplasma adalah 14,25%. Dari ibu-ibu yang terinveksi itu didapatkan, 4 persalinan prematur dan 1 kasus dengan kelainan saat lahir. Hasil survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan Hartono pada 1995 menemukan angka prevalensi zat anti terhadap toxoplasma pada wanita-wanita hamil sebesar 60,01%. "Sedangkan jumlah penderita penyakit pada hewan-hewan yang hidupnya dekat dengan manusia dagingnya dikonsumsi manusia menunjukkan angka prevalensi yang cukup tinggi yakni 15-75 % (Koesharyono, 2009)..
1.2. Perumusaan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perumusan masalah diatas adalah “Bagaimana gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010
1.3. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahuai gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus penelitian adalah :
1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010 berdasarkan umur.
2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010 berdasarkan pendidikan.
3. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010 berdasarkan pekerjaan.
1.4. Manfaat penelitian
1. Bagi ibu hamil
Sebagai bahan masukan untuk setiap ibu hamil untuk dapat mengerti dan mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010.
2. Bagi peneliti
Untuk mengaplikasika ilmu yang peneliti dapat selama di bangku perkuliahan, dalam meneliti gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010.
3. Bagi klinik yanti
Sebagai bahn masukan dan pengetahuan bagi pihak klinik untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010.
4. Bagi universitas prima indonesia
Sebagai referensi untuk penelitiaan selanjutnya untuk meneliti mengenai gambaran Sebagai bahn masukan dan pengetahuan bagi pihak klinik untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti medan periode 2009-2010.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pegetahuan ibu hamil tentang toxoplasma
2.1.1. Defenisi
Pengetahuan adalah merupakan hasil (tahu) dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmojo, 2005).
Pengetahuan adalah kepercayaan yang benar, pengetahuan juga adalah hasil atau apa yang diketahui atau hasil pekerjaan. Pekerjaan yaitu hasil dari kenal, sadar,insaf, mengerti dan pandai (bachtiar, 2004).
2.1.2. Cara memperoleh pengetahuan
Dari berbagai macam cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian (Notoatmojo, 2005).
1. Cara Tradisional
Dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum ditemukanya metode ilmiah yaitu:
a. Cara coba salah (Trial And Error)
Cara coba-coba yang dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan suatu masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan lain.
b. Cara kekuasaan atau Otoritas
Pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik tradisi, otoritas pemerintah,otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan.
c. Berdasarkan pengalaman pribadi
Cara ini dilakukan dengan cara mengulang kembali dengan pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah ini yang dihadapi, maka untuk memecahkan masalah lain yang sama dapat pula dilakukan dengan cara yang sama.
d. Melalui jalan pikiran
Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan penalaranya atau jalan pikiranya
2. Cara Modern
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan ini mode sistematis, logis dan ilmiah.cara ini disebut dengan “metode penelitian ilmiah” atau lebih popular disebut metode penelitian (Research Methodelogi) yang mengembangkamn metode berpikir induktif dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap gejala alam atau kemasyarakatan. Kemudian hasil pengamatan tersebut dikumpulkan dan di klasifikasikan, dan akhirnya diambil kesimpulan umum (Notoatmojo, 2005).
2.1.3. Tingkat pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat (Notoatmojo, 2005).
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelunya
2. Memahami (Komprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan meteri yang tela dipelajari pada situasi atau kondisi rill atau sebenarna.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan suatu untuk menjabarkan materi suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitanya satu sama lainnya.
5. Sintesis (Syenthesis)
Sintesis menunjuk kepada kemampua untuk meletakkan atau kemampuan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
2.1.4. Pengukuran pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan cara kuesioner atau pertanyaan-pertanyaan yang mencakup tentang pengetahuan ibu hamil dengan toxoplasma di nilai seberapa luas kedalaman pengeahuan ibu hamil entang toxoplasma da dapat kita ketahui atau kita ukur melalui persentase yang dihasilkan oleh responden (Notoatmojo, 2005).
2.1.5. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma
Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma ini adalah bagai mana Toksoplasma pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, lahir prematur, lahir mati, lahir cacat atau infeksi toksoplasma bawaan. Bilamana ibu hamil terkena infeksi tokso-plasma maka risiko terjadinya toksoplasmosis bawaan pada bayi yang dikandungnya berkisar antara 30-40%. Infeksi toksoplasma bawaan ini dapat mengakibatkan anak yang dilahirkan mengalami kerusakan mata, perkapuran otak, dan keterbelakangan mental, namun seringkali gejala ini tidak terlihat pada bayi yang baru lahir (neonatus). Beberapa faktor yang mungkin berperan atas munculnya gejala adalah fungsi plasenta sebagai sawar (barrier), status kekebalan (imunitas) ibu hamil, dan umur kehamilan ketika terjadinya infeksi pada ibu. Makin besar umur kehamilan ketika terjadinya infeksi, makin besar pula kemungkinan terjadinya infeksi toksoplasma bawaan pada janin. Pada pihak lain, makin dini terjadinya infeksi pada janin, makin berat kerusakan (kelainan) yang dapat terjadi pada janin dan makin besar kemungkinan abortus.
2.2. Ibu Hamil
Kehamilan adalah rangkaian peristiwa yang baru terjadi bila ovum dibuahi dan pembuahan ovum akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm (Guyton, 1997). Menurut Kushartanti (2004), kehamilan adalah dikandungnya janin hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Astria, 2009).
Kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran).
Dalam masyarakat, definisi medis dan legal kehamilan manusia dibagi menjadi tiga periode trimester untuk memudahkan tahap dari perkembangan janin. Trimester pertama (minggu pertama sampai minggu ke-13) membawa resiko tertinggi keguguran (kematian alami embrio atau janin), sedangkan pada masa trimester kedua (minggu ke-14 sampai ke-26) perkembangan janin dapat dimonitor dan didiagnosa. Trimester ketiga (minggu ke-27 sampai kehamilan cukup bulan 38-40 minggu) menandakan awal viabilitas, yang berarti janin dapat tetap hidup bila terjadi kelahiran awal alami atau kelahiran dipaksakan (Astria, 2009).
2.2.1. Infeksi-infeksi pada Ibu Hamil
Seorang ibu hamil harus merawat kehamilannya sejak dini dengan memeriksakan diri secara teratur ke dokter dan atau tenaga medis yang berkompeten, menjaga kebersihan dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Karena gizi ibu hamil, kebersihan dan pemeriksaan teratur (Ante natal care) mempunyai peranan penting tidak saja agar proses kelahiran mudah, tetapi yang lebih penting lagi adalah bayi yang dilahirkan dalam kondisi sehat. Kondisi kehamilan dapat terpengaruh beberapa keadaaan, antara lain adalah penyakit infeksi. Beberapa penyakit infeksi yang didapat, terutama pada kehamilan dini bisa menyebabkan terjadinya keguguran dan dampak yang serius pada janin, sehingga dapat menimbulkan kelainan-kelainan dan cacat pada bayi yang dilahirkan.
Infeksi TORCH (Toxoplasma, Other, (Strepto Gr-B, Listerosis, Measles, Varicella dan lain-lain) Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex virus), pada kehamilan menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi, berkisar antara 5,5-8,4 %. Kelompok inveksi ini yang terdiri beberapa jenis virus dan toxoplasma gondii memberikan sindroma manifestasi klinik pada anak hampir mirip satu dengan yang lainnya, sehingga sulit kiranya dipisahkan antara penyebab penyebab penyakit beberapa jenis virus tersebut dengan infeksi Toxoplasma gondii itu sendiri. Maka kelompok infeksi ini dijadikan satu dalam akronim sebagai “infeksi TORCH”. Selain dapat menyebabkan komplikasi yang bermacam-macam pada janin, infeksi TORCH merupakan salah satu faktor penyebab infertilitas pada wanita. Telaah ari kajian klinis menyatakan bahwa prevalensi infeksi toxoplasma pada infertilitas mempunyai rentang berkisar antara 7-18%, dan secara umum infeksi ini bertambah dengan makin bertambahnya umur penderita (RetnoArum, 2009).
2.2.2. Bahaya toksoplasma bagi ibu dan janin
Pada orang sehat, parasit tokso tidak berdampak apa-apa. Lain halnya pada ibu hamil. Jika tidak keguguran, maka janin yang lahir akan terancam cacat. Sering mendengar, kan, ibu hamil yang keguguran atau bayinya cacat akibat terinfeksi toksoplasma. Sebenarnya, ungkap dr. Indra Anwar, Sp.OG, infeksi tokso bisa menyerang siapa saja. Baik laki-laki maupun perempuan bisa terkena parasit yang populer disebut Toxoplasma gondii ini. Data statistik pun menunjukkan, hampir sepertiga penduduk dunia, baik laki-laki maupun perempuan terinfeksi toksoplasma. Awalnya, penyakit ini ditemukan pada seekor rodensial (hewan pengerat) di Tunisia tahun 1908. Sedangkan pada manusia baru ditemukan di Cekoslovakia pada tahun 1923. Diungkapkan oleh Indra, bagi orang normal dan sehat, infeksi tokso tidak menimbulkan gangguan berarti. Kondisinya yang selalu "tidur" memungkinkan hal itu. Dokter dari RS Bunda Jakarta ini lantas mengungkapkan, meski begitu parasit tokso memiliki sifat oportunis. Jika daya tahan tubuh orang yang didiaminya kuat, adanya virus ini memang tidak mengakibatkan gangguan berarti. Barulah ketika daya tahan tubuh lemah, virus tokso akan menimbulkan bahaya.
Itulah mengapa, infeksi tokso bisa muncul kapan saja. Juga, tak ada jaminan bahwa seseorang yang sudah divonis bebas tokso, tiga bulan lagi akan tetap bebas dari virus tersebut (Milis, 2007).
2.2.3. Karakteristik ibu hamil terhadap penyakit toxoplasma.
Adapun karakteristik ibu hamil terhadap penyakit toxoplasma, meliputi:
1. Umur
Umur adalah indeks yang menempatkan individu-individu dalam urutan perkembangan, lamanya orang hidup dalam tahun dihitung sejak dilahirkan berulang tahun terakhir (Hurlock, 1998).
2. Pendidikan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain secara kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Yang diharapkan dari pendidikan itu sendiri adalah setiap individu mampu untuk meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo, 2003).
3. Pekerjaan
Pekerjaan dalah kegiatan formal yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kebahagiaan tergantung pada kesesuaian besar luasnya cakupan bakat dan minat dengan tugas yang diemban artinya makin cocok bakat dan minatnya dengan jenis pekerjaan yang diemban, makin tinggi pula tingkat kepuasan yang diperoleh (Hurlock, 1998).
2.3. Toxoplasma
2.3.3. Defenisi
Toxoplasma adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang telah diketahui dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan kongenital) pada bayi dan keguguran (abortus) pada ibu hamil. Infeksi toksoplasma dapat bersifat tunggal atau dalam kombinasi dengan infeksi lain dari golongan TORSH-KM (Ummi, 2008).
Toxoplasma gondii adalah adalah parasit protozoa intraselluler. Bentuk parasit toxoplasma gondii seperti batang melengkung dengan ukuran lebih kecil dari sel darah merah (3-6 um), dapat menembus sel secara aktif dan masuk ke berbagai jaringan seperti obat, otak, mata, dan usus.
Parasit ini memiliki 3 bentuk dalam siklus hidup -- takizoit, kista (bradizoit) dan ookista. Ookista berukuran 10-12 um, mempunyai hospes definitive yaitu kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus seksual yang kemudian menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feses kucing.
Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam fesesnya mengandung jutaan ookista. Ookista dapat bertahan di lingkungan untuk beberapa bulan dan tahan terhadap desinfektan, pembekuan dan tempat yang kering, namun dapat mati dengan pemanasan 70øC selama 10 menit (Dr. I Made Arya, 2009).
Penelitian toxoplasma di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1971 dan 1972 oleh Durfee yang dilaporkan pada tahun 1976. Dalam penelitian tersebut mereka mengumpulkan sera dari 1.050 orang, 69 kucing 18 kambing,23 sapi, 2 kera, dan satu anjing dari tujuh desa kalimantan selatan pada tahun 1971 dan mengujinya dengan uji hemaglutinasi tidak langsung (IHA = Inderect technique) da titer dinyatakan positif bila masih positif bila masih positif pencernaan ≥ 1: 16 sedangkan tahun 1972 peneliti yang sama mengumpulkan suatu data (Rochiman, 2006).
Peneliti lain yang mencoba mengungkap peranan kucing dalam penularan toxoplasma adalah Umyati dan Amino yana memeriksa 11 kucing laboratorium kedokteran universitas gajah mada di yogyakarta. Hasil pemeriksaan tersebut membuktikan 3 dari 14 kucing yang di periksa positif ookista T.gondii, walaupun ternyata dari ke tiga kucing hanya dua kucing yang positif secara serologis. Hasil menunjukkan kucing disuatu laboratorium bisa terkena toxoplasma dan mampu menularkannya. Kucing peliharaan masyarakat maupun hewan lainnya termasuk ternak yang dagingnya di komsumsi manusia. Penelitian ini di tunjang oleh hasil penelitian yang mengatakan bahwa lebih dalam menularkan toxoplasma pada manusia (Rochiman, 2006).
2.3.4. Epidemiologi Toxoplasma Dimanca Negara
Sebagai kelengkapan epidemiologi toxoplasma di Indonesia perlu juga dikemukakan epidemiologi toxoplasma di manca Negara denga tujuan untuk menjadi bahan perbandingan dengan di negeri kita sehingga dapat melakukan tingkat lanjut yang lebih cepat dan efisien daripada sebelunya. Didalam bahasan toxoplasma pada hewan sebab manusia akan di uraikan bersama dengan hewan sebab toxoplasma pada manusia sangat erat hubungannya.
1. Asia
Papua new guinea. Toxoplasma yang disebarkan oleh induk semang utama kucing telah diperhitungkan juga oleh Wallace. Hasil pengujian mereka dengan uji pewarnaan Sabin dan Feldman dengan batas seropositif toxoplasma ≥ 1:16 di papua barat dan papua New Guinea meliputi sembilan daerah pada tahun 1960, 1968, dan 1970.
2. Malaysia
Negara tetangga kita yang lain adalah Malaysia juga tidak lepas dari toxoplasma seperti halnya dilaporkan oleh Leong kejadian toxoplasma perolehan pada dua orang pasien dengan keluhan adanya pembengkakan pada sisi leher bagian kiri dari seorang mahasiswa umur 23 tahun dan pembengkakan di daerah occiput tanpa Adanya rasa sakit (Rochiman, 2006).
3. Singapura
Sementara itu Lim yang dikutip oleh leong melaporkan tiga kasus toxoplasma kongnital dengan korioditas di singapura. Orang tua dari pasien tersebut adalah indonesia dan inggris (Rochiman, 2006).
4. Myanmar
Tin mengadakan segi pada anak anak sekolah pada orang sekolah 7-13 tahun di dua lokasi yang berjauhan, yaitu Gyogon 40 mil cébela utara Rangoon dan Hiwaga 20 mil cebela utara yang mempunyai hubungan yang mudah dengan rangoon (Rochiman, 2006).
5. Taiwan
Durfee mengadakan sigi pada anak-anak serologis manusia dan hewan di Propinsi Miaoli dibagian utara Taiwan dan Propinsi Pintung dari bagian selatan Taiwan dan kucing di kota Taipe. Pada peternakan babi yang dekat dengan daerah sigi kucing ternyata 35,4% seropositif dari 325 babi yang di periksa tapi tidak ada seropositif pada 20 tikus dan 11 kucing liar diperiksa. Hasil uji 114 karyawan yang di uji ternyata hanya 2,6% seropositif (Rochiman, 2006).
6. Jepang
Daging babi adalah daging utama yang dikomsumsi penduduk Amami Oshima di jepang selatan.hasil segi dengan uji memaglutinasi tidak langsung menunjukkan 35% seropositif toxoplasma dari 393 babi yang di periksa (Rochiman, 2006).
2.3.3. Penularan toxoplasma
Penularan satu penyakit tergantung pada tiga hal,yaitu adanya lingkungan yang memungkinkan perkembangbiakan agen penyakit, Adanya induk semang maupun induk semana antara (intermediet) yang peka dan tentunya agen penyakit itu sendiri. (Rochiman, 2006).
Toxoplasma adalah penyakit ang mempunya induk semana antara hampir pada semua hewan berdarah panas. Semua jenis hewan perantara mempunyai kemungkinan besar untuk selalu ada di seluruh wilayah negara kesatuan republik indonesia yang beriklim tropis dan merupakan surga bagi perkembangan parasit pada umunya dan ookista T.gondii pada khususnya. Toxoplasma dapat ditularkan dari statu induk semana antara semana yang lainya melalui beberapa cara berikut:
a. Tertelannya ookista infektif yang berasal dari kucing
b. Tertelanya kista jaringa atau kelompok takizoid yang terdapat didala daging mentah atau pun yang dimasak kurang sempurna.
c. Melalui placenta
d. Kecelakan dilaboratorium karena terkontaminasi melalui luka.
e. Penyuntikan merozid secara tidak sengaja.
f. Tranfusi leukosit penderita toxoplasma
Menurut Levine empat cara penularan pertama adalah yang paling sering terjadi sagat lah mempengaruhi (Rochiman, 2006).
2.3.4. Gejala dan wujud klinis toxoplasma
Gejala yang timbul pada infeksi toksoplasma tidak khas, sehingga penderita sering tidak menyadari bahwa dirinya telah terkena infeksi. Tetapi sekali terkena infeksi toksoplasma maka parasit ini akan menetap (persisten) dalam bentuk kista pada organ tubuh penderita selama siklus hidupnya. Gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening (limfe) dikenal sebagai limfadenopati, yang dapat disertai demam. Kelenjar limfe di leher adalah yang paling sering terserang. Gejala toksoplasmosis akut yang lain adalah demam, kaku leher, nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), ruam kulit, gidu (urticaria), hepatosplenomegali atau hepatitis. Wujud klinis toksoplasmosis yang paling sering pada anak adalah infeksi retina (korioretinitis), biasanya akan timbul pada usia remaja atau dewasa. Pada anak, juling merupakan gejala awal dari korioretinitis. Bila makula terkena, maka penglihatan sentralnya akan terganggu (Zrofikoh, 2008).
Pada penderita dengan imunodefisiensi seperti penderita cacat imun, penderita kanker, penerima cangkok jaringan yang mendapat pengobatan imunosupresan, dapat timbul gejala ringan sampai berat susunan saraf pusat seperti ensefalopati, meningoense-falitis, atau lesi massa otak dan perubahan status mental, nyeri kepala, kelainan fokal serebral dan kejang-kejang, bahkan pada penderita AIDS seringkali mengakibatkan kematian. (Zrofikoh, 2008).
Toxoplasma dapat masuk ke dalam tubuh manusia dalam berbagai cara. Pertama, secara tidak sengaja menelan tinja kucing yang di dalamnya terdapat telur toxoplasma. Cara ini banyak tidak disadari, misalnya menyentuh mulut dengan tangan yang telah berkontaminasi seperti sehabis berkebun, membersihkan tempat makan kucing atau barang-barang lain yang sudah terkontaminasi. Kedua, parasit ini juga dapat masuk jika mengkonsumsi daging hewan yang telah terkontaminasi dan tidak dimasak secara matang. Bentuk kista dari parasit ini dapat masuk bersama daging hewan tadi. Ketiga, masuk lewat air yang telah terkontaminasi. Dan yang jarang, jika Anda menerima transparansi organ atau transfusi darah dari donor yang telah terkontaminasi. Jika dalam keadaan sehat, umumnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala apa-apa atau menyerupai sakit influenza biasanya disertai pembesaran kelenjar getah bening regional yang nyeri. Gejala yang berat mungkin terjadi seperti kerusakan otak dan mata yang terutama terjadi pada penderita kekurangan daya tahan tubuh seperti HIV/AIDS atau penyakit keganasan (Dr. I Made Arya, 2009).
2.3.5. Pencehahan toxoplasma
a. Hindari mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang, serta buah dan sayuran yang belum dicuci.
b. Hindari mengosok mata atau menyentuh muka ketika sedang menyiapkan makanan.
c. Cuci alas memotong, piring, serta alat memasak lainnya dengan air panas dan berbusa setelah kontak dengan daging mentah.
d. Masak air sampai mendidih serta hindari meminum susu yang belum di pasteurisasi.
e. Sedapat mungkin kendalikan serangga-serangga yang dapat menyebarkan kotoran kucing seperti, lalat dan kecoa
f. Jika Anda memiliki hewan peliharaan kucing, jangan biarkan Anda berkeliaran di luar rumah yang memperbesar kemungkinan kontak dengan toxoplasma.
g. Mintalah anggota keluarga lain untuk membantu Anda membersihkan kucing Anda termasuk memandikannya, mencuci kandang, tempat makannya.
h. Beri makan kucing Anda dengan makananan yang sudah dimasak dengan baik.
i. Lakukan pemeriksaan berkala terhadap kesehatan kucing Anda.
j. Gunakan sarung tangan plastik ketika Anda harus membersihkan kotoran kucing, sebaiknya dihindari.
k. Cuci tangan sebelum makan dan setelah berkontak dengan daging mentah, tanah atau kucing.
l. Gunakan sarung tangan plastik jika Anda berkebun terutama jika terdapat luka pada tangan Anda (Pandu, 2010).
2.3.6. Pengobatan toxoplasma
Untuk mengendalikan infeksi yang persisten ini, umumnya diperlukan reaksi imun tubuh yang memadai (adekuat). Penderita toksoplasma dengan sistem imun yang normal tidak memerlukan pengobatan, kecuali ada gejala-gejala yang berat atau berkelanjutan. Toksoplasmosis pada penderita imunodefisiensi harus diobati karena dapat mengakibatkan kematian. Toksoplasmosis pada ibu hamil perlu diobati untuk menghindari toksoplasmosis bawaan pada bayi. Obat-obat yang dapat digunakan untuk ibu hamil adalah spiramisin 3 gram/hari yang terbagi dalam 3-4 dosis tanpa memandang umur kehamilan, atau bilamana mengharuskan maka dapat diberikan dalam bentuk kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin setelah umur kehamilan di atas 16 minggu (Zrofikoh, 2008).
Lebih lanjut disampaikannya bahwa pencegahan merupakan faktor utama dalam mengurangi prevalensi toxoplasmosis pada manusia. Untuk menghindari penularan toxoplasma melalui oosit infektif dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain, selalu menjaga kebersihan hewan kesayangan (kucing diketahui sebagai induk semang definitif toxoplasma), tidak memberikan daging mentah pada kucing piaraan, dan mencuci buah serta sayur sebelum dikonsumsi. Sementara itu, untuk mencegah penularan toxoplasma melalui sista dapat dilakukan dengan mencuci daging sebelum dimasak dan mengurangi mengonsumsi daging setengah matang (Rilis, 2008).
2.3.7. Pemeriksaan toxoplasma
Diagnosis penyakit toksoplasma umumnya ditegakkan karena adanya kecenderungan yang mengarah pada penyakit tersebut, antara lain adanya riwayat:
a. Infertilitas, abortus, lahir mati, kelainan bawaan
b. Memelihara binatang piaraan berbulu, misalnya kucing
Pemeriksaan yang digunakan saat ini untuk mendiagnosis toxoplasma adalah pemeriksaan serologis, dengan memeriksa zat anti (antibodi) IgG dan IgM Toxsoplasma gondii. Antibodi IgM dibentuk pada masa infeksi akut (5 hari setelah infeksi), titernya meningkat dengan cepat (80 sampai 1000 atau lebih) dan akan mereda dalam waktu relatif singkat (beberapa minggu atau bulan). Antibodi IgG dibentuk lebih kemudian (1-2 minggu setelah infeksi), yang akan meningkat titernya dalam 6-8 minggu, kemudian menurun dan dapat bertahan dalam waktu cukup lama, berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun. Oleh karena itu, temuan antibodi IgG dianggap sebagai infeksi yang su-dah lama, sedangkan adanya antibodi IgM berarti infeksi yang baru atau pengakifan kembali infeksi lama (reaktivasi), dan berisiko bayi terkena toksoplasmosis bawaan. Berapa tingginya kadar antibodi tersebut untuk menyatakan seseorang sudah terinfeksi toxoplasma sangatlah beragam, bergantung pada cara peneraan yang dipakai dan kendali mutu dan batasan baku masing-masing laboratorium. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Teguh Wahyu S dkk. (1998), yang menyatakan seorang ibu yang tergolong positif bilamana titer IgGnya 2.949 IU/mL atau IgM 0.5 IU/mL, sedangkan tergolong negatif bilamana titer IgG < 2.0 IU/mL atau IgM < 0.5 IU/ml (Zrofikoh, 2008).
Tidak semua ibu hamil yang terinfeksi toksoplasma akan menularkan toxoplasma bawaan pada bayinya. Bilamana dalam pemeriksaan ibu sebelum hamil menunjukkan IgG positif terhadap toksoplasma, berarti ibu tersebut terinfeksi sudah lama, tetapi bukan berarti bahwa 100% bayinya akan bebas dari toxoplasma bawaan. Apabila pemeriksaan serologis baru dilakukan pada saat hamil, maka :
a. bila IgG (+) dan IgM (-); dianggap sebagai infeksi lama dan risiko janinnya terinfeksi cukup rendah sehingga ada sebagian pakar yang berpendapat tidak perlu diobati, kecuali jika pasien itu mengidap gangguan kekebalan.
b. bila IgG (+) dan IgM (+); uji perlu diulang lagi 3 minggu kemudian. Bilamana titer IgG tidak meningkat maka dianggap infeksi terjadi sebelum kehamilan dan risiko untuk janinnya cukup rendah, sedangkan jika titer IgG meningkat 4 kali lipat dan IgM tetap positif maka ini berarti bahwa telah terjadi infeksi baru dan janin sangat berisiko mengalami toxoplasma bawaan atau terjadi keguguran.
c. bila IgG (-) dan IgM (-); bukan berarti terbebas dari toksoplasmosis bawaan, justru pada ibu ini pemeriksaan harus diulang setiap 2-3 bulan untuk menasah serokonversi (perubahan negatif menjadi positif).
d. Bilamana pada ibu hamil ditemukan IgM (+) maka pengobatan sudah pasti harus diberikan dan pemeriksaan ultrasonografi dilakukan berulang kali untuk menen-tukan adanya kelainan janin.
e. Ultrasonografi serial setiap 3 minggu dilakukan untuk menentukan adanya kelainan, misalnya: asites, pembesaran rongga otak (ventrikulomegali) (V/H), pemesaran hati (hepatomegali), perkapuran (kalsifikasi) otak. Bila pada janin terdapat kelainan maka perlu dipertimbangkan untuk peng-akhiran (terminasi) kehamilan.
f. Bila mungkin, dilakukan pengambilan darah janin pada kehamilan 20-32 minggu untuk pembiakan parasit (inokulasi) pada mencit. Bila inokulasi memberikan hasil positif maka perlu dipertimbangkan untuk pengakhiran kehamilan.
g. Setelah bayi lahir perlu dilakukan pemeriksaan lengkap terhadap bayi, antara lain: pengambilan darah talipusat ketika bayi baru saja lahir untuk pemeriksaan serologis antibodi janin atau isolasi T. gondiii, pemeriksaan titik-cahaya mata (funduskopi), dan USG atau foto rontgen tengkorak.
Diagnosis toxoplasma bawaan pada bayi lebih sukar ditetapkan karena gejala klinis dari infeksi toksoplasma bawaan sangat beraneka ragam dan seringkali subklinis (tidak terlihat) pada neonatus. Oleh karena itu perlu dilakukan juga pemeriksaan serologis pada neonatus, terutama bilamana diketahui ibunya terinfeksi selama kehamilan. Antibodi IgG dapat menembus plasenta, sedangkan antibodi IgM tidak dapat menembus plasenta. Dengan demikian, apabila pada darah bayi ditemukan antibodi IgG mungkin hanya merupakan pindahan (transfer) IgG ibu, dan lambat-laun akan habis. Pada usia 2-3 bulan, bayi sudah dapat membentuk antibodi IgG sendiri, bilamana bayi terinfeksi toksoplasma bawaan maka konsentrasi IgGnya akan mulai meningkat lagi setelah IgG yang diperoleh dari ibunya habis. Tetapi jika ditemukan antibodi IgM, maka ini menunjukkan infeksi nyata pada bayi (toxoplasma bawaan) (Zrofikoh, 2008).
2.4. Kerangka konsep
Kerangka konsep penelitian tentang gambaran pengetahuan ibu hamil tentang Toxoplasma di klinik Yanti medan periode 2009-2010.
Variabel Bebas Variabel Terikat
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriftif yang menggambarkan pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma di klinik yanti periode 2009-2010.
3.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.2.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di klinik Yanti Medan periode 2009 -2010 didasarkan atas :
1. Lokasi tersebut belum pernah di jadikan tempat penelitian kesehatan tentang Toxoplasma sebelumnya.
2. Ibu hamil yang berkunjung ke klinik belum pernah mendapatkan informasi tentang toxoplasma kususnya tentang bagaimana penularannya.
3. Lokasi tersebut tidak jauh dari tempat tinggal peneliti.
4. Jumlah sampel memadai untuk di jadikan penelitian.
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan april 2010.
3.3. Populasi
3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan ibu hamil di klinik yanti periode dengan jumlah 50 orang alasan penelitian mengambil sampel dari ibu hamil ini adalah untuk mengetahui bagaimana hasil gambaran pengetahuan ibu hamil tersebut terhadap toxoplasma. Selain itu ibu hamil juga memiliki waktu untuk ikut serta dalam berjalanya penelitian ini, sehingga memudahkan peneliti memudahkan untuk mendapatkan data yang akurat.
3.3.2. Sampel
Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sample, dimana semua populasi menjadi sampel penelitian yaitu sebanyak 50 orang.
3.4. Metode Pengumpulan data
Penelitian ini menggunakan data primer dengan menggunakan wawancara secara langsung kepada responden dengan menggunakan kuesioner yang dibuat sendiri oleh penulis berdasarkan pustaka kepada ibu hamil di klinik yanta Medan periode 2009-2010, kuesioner ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana pengetahuan ibu hamil tentang toxoplasma.
3.5. Defenisi Operasional
No Variabel Defenisi Parameter Alat ukur Skala Hasil ukur
1 Bebas : pengetahuan ibu hamil Pengetahuan adalah merupakan hasil (tahu) dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. a. Baik, jika mampu menjawab pertanyaan dengan benar > 11 (> 73,3%)
b. Cukup, jika mampu menjawab pertanyaan dengan benar 8-11 (53,3-73,3%)
c. Kurang, jika mampu menjawab pertanyaan dengan benar < 8 (< 53,3%) Kuesioner Ordinal 1. Baik (skor 1)
2. Cukup (skor 2)
3. Kurang (skor 3)
2 Karakteristik ibu hail :
Umur
Lamanya hidup dalam tahun, yang dihitunh sejak dilahirkan sampai pengisian kuisioner. a. 20-25 tahun
b. 26-30 tahun
c. 31-35 tahun
d. ≥ 36 tahun Kuesioner Ordinal 1. 20-25 tahun (skor 1)
2. 26-30 tahun (skor 2)
3. 31-35 tahun (skor 3)
4. ≥ 36 tahun (skor 4)
3 Pendidikan
Proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok dalam usa mendewasakan manusia dalam upaya pendidikan a. SD
b. SMP
c. SMAd. PT Kuesioner Ordinal 1. SD (skor 1)
2. SMP (skor 2)
3. SMA (skor 3)
4. PT (skor 4)
4 Pekerjaan Kegiatan yang dilakukan untuk mencari nafkah a. IRT
b. Wiraswasta
c. Pegawai swasta
d. PNS Kuesioner Nominal 1. IRT (skor 1)
2. Wiraswasta (skor 2)
3. Peg. Swasta (skor 3)
4. PNS (skor 3)
8 Terikat : toxoplasma Toxoplasma adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang telah diketahui dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan kongenital) pada bayi dan keguguran (abortus) pada ibu hamil. a. Ringan
e. Berat Kuesioner Ordinal 1. Ringan, jika memiliki gejala demam, kaku leher, nyeri otot, nyeri sendi dan ruam (skor 1)
2. Berat, jika terjadi keguguran pada kehamilan dan kecacatan pada anak (skor 2)
3.6. Aspek pengukuran
1. Pengetahuan
Pengetahuan ibu hamil tentang penyakit toxoplasma di ukur melalui 15 pertanyaan dengan memilih jawaban pada kuesioner. Untuk masing-masing pertanyaan apabila responden menjawab dengan benar di beri nilai 1 (satu) dan bila salah di beri nilai 0 (nol).
Berdasarkan jumlah skor yang di peroles responden maka pengetahuan responden di kategorikan atas 3 kategori :
1. Tingkat pengetahuan baik bila skor yang diperoleh > 11 (> 73,3%).
2. Tingkat pengetahuan sedang bila skor yang diperoleh antara 8-11 (53,3%-73,3%).
3. Tingkat pengetahuan kurang apabila skor yang diperoleh < 8 (< 53,3%).
3.7 Tekhnik Pengolahan Data
1. Editing (pemeriksaan data), data yang masuk diperiksa kembali apakah ada kekeliuan data, kemungkinan tidak lengkap atau data yang tidak sesuai.
2. Coding (pengkodean data), memberikan tanda atau kode pada data yang telah lengkap sesuai dengan variable yang akhirnya dapat diolah.
3. Entrying memasukkan data ke komputer.
4. Tabulating (pemasukan data), data selanjutnya dikelompokkan secara teliti, dihirung dan dijumlahkan kemudian dimasukkan kedalam tabel-tabel distribusi frekuensi.
3.8 Analisa Data
1. Analisa univariat
Analisis ini dilakukan secara deskriptif dengan distribusi frekuensi terhadap variabel pengetahuan ibu dengan penyakit toxoplasma.
2. Analisa bivariat
Untuk melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dengan menggunakan uji chi-square (X2) pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05).
Langganan:
Postingan (Atom)
